Tajam24Jam.Com Tanjabtim, Jum’at 5 September 2025 – Pertemuan antara mahasiswa dan Pemerintah Daerah Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) yang digelar di sebuah cafe di Kota Jambi menuai sorotan. Publik mempertanyakan efektivitas forum tersebut dalam menyerap aspirasi rakyat, mengingat pertemuan tidak dilaksanakan di wilayah Tanjabtim sendiri.
Suasana pertemuan berlangsung santai dengan hidangan makanan dan minuman. Namun, di balik keakraban itu, muncul pertanyaan besar: sejauh mana aspirasi masyarakat Tanjabtim benar-benar tersampaikan? Kritik menguat karena agenda yang mengatasnamakan “aspirasi rakyat” itu hanya dihadiri segelintir orang.
Barisan Rakyat Tanjabtim Menggugat (Brantam) menilai forum tersebut belum mewakili masyarakat luas. Agus Sukarno, salah satu tokoh Brantam, menegaskan rakyat menanti bukti nyata dari janji visi-misi pemerintah daerah, salah satunya program seragam sekolah gratis yang hingga kini belum terealisasi.

Kalau visi misi tidak berjalan, kami tentu akan bertanya. Aspirasi rakyat seharusnya tidak berhenti di meja cafe, tapi diwujudkan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Agus juga menyayangkan langkah pemerintah daerah yang memfasilitasi pertemuan di luar Tanjabtim. Menurutnya, forum serap aspirasi seharusnya dilakukan di daerah sendiri agar masyarakat dapat terlibat langsung sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal, termasuk bagi para pelaku UMKM.
Menanggapi kritik tersebut, Bupati Tanjabtim menjelaskan pemilihan lokasi di Kota Jambi dipertimbangkan karena sebagian besar mahasiswa berdomisili di sana. Faktor keamanan dan kemudahan koordinasi juga menjadi alasan. Meski begitu, penjelasan itu dinilai belum cukup meredam keresahan publik.
Kini, masyarakat Tanjabtim berharap setiap forum aspirasi benar-benar terbuka, melibatkan seluruh elemen, serta dilaksanakan di wilayah sendiri. Sebab, bagi rakyat, aspirasi bukan sekadar percakapan santai di cafe, melainkan suara perjuangan yang harus didengar dan diwujudkan demi kesejahteraan bersama.
Penulis Tim



