Tuntut Bersih-Bersih Kejari Sungai Penuh, Massa AWasI Geruduk Kejati Jambi

Tajam24Jam.Com Jambi, Senin 30/6/2025 – Kantor Kejaksaan Tinggi Jambi hari ini menjadi saksi bisu gelombang aspirasi masyarakat yang disuarakan melalui aksi unjuk rasa damai oleh Aliansi Wartawan Siber Indonesia (AWaSI) Provinsi Jambi. Massa yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat dan aktivis pers, berkumpul sejak pukul 09.00 WIB pada Senin (30/06/2025) untuk menyampaikan tuntutan serius terkait dugaan kericuhan dan maladministrasi di Kejaksaan Negeri (Kejari) Sungai Penuh. Dalam orasinya, Tri menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud nyata keprihatinan mendalam AWaSI dan masyarakat terhadap berbagai isu yang melilit Kejari Sungai Penuh. “Kami datang hari ini bukan untuk mencari keributan, melainkan untuk menuntut keadilan dan transparansi. Ada kegelisahan besar di tengah masyarakat Sungai Penuh terkait kinerja penegakan hukum,” ujar Tri dengan lantang. Secara rinci, AWaSI Jambi menguraikan lima tuntutan utama yang menjadi inti dari aksi kali ini: Aksi yang berlangsung aman dan kondusif berkat pengamanan ketat dari pihak kepolisian. Massa aksi membawa berbagai atribut seperti spanduk, karton, dan bendera yang bertuliskan tuntutan mereka. Meskipun tidak ada perwakilan dari Kejaksaan Tinggi Jambi yang secara resmi menemui massa di tengah aksi, pihak AWaSI berharap pesan mereka telah tersampaikan dengan jelas. AWaSI Jambi menyerahkan surat mosi tak percaya dan laporan dugaan penyalahgunaan wewenang Kejari Sungai Penuh kepada Kejati Jambi. Dalam suratnya, AWaSI Jambi menyampaikan fakta-fakta di lapangan menunjukkan bahwa: Erfan Indriyawan, SP, selaku Ketua Umum Aliansi Wartawan Siber Indonesia (AWaSI) Provinsi Jambi menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta aksi yang telah hadir dalam menyampaikan aspirasi. “Ini adalah awal dari perjuangan kita untuk mewujudkan kejaksaan yang bersih dan berintegritas. Kami akan terus memantau dan mengawal setiap perkembangan kasus ini,” tegasnya. Penulis Tim

Read More

Banyak Kasus Tidak Bisa Diungkapkan, Kepala Kejari Sungaipenuh Diminta Angkat Kaki dari Bumi Sakti Alam Kerinci

Tajam24Jam.Com Sungai Penuh , Rabu 25/6/2025 – Aksi lanjutan unjuk rasa yang digelar oleh para aktivis Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh kembali memanas di depan Kantor Kejaksaan Negeri Sungai Penuh, Rabu (25/6/2025). Aksi tersebut menyoroti dugaan korupsi yang diduga dilakukan oleh Kepala Desa Pelayang Raya, Supriadi, terkait penyelewengan Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD). Aksi ini merupakan lanjutan dari unjuk rasa sebelumnya yang telah berlangsung 10 hari lalu. Saat itu, Kasi Intel Kejari Sungai Penuh menjanjikan akan menindaklanjuti laporan masyarakat dalam kurun waktu tersebut. Namun, hingga kini, menurut para aktivis, belum ada langkah konkret yang dilakukan pihak Kejaksaan. Dalam orasinya, Indra Komano, menilai Kejaksaan Negeri Sungai Penuh “mandul” dan tidak menunjukkan komitmen dalam penegakan hukum. “Sudah 10 hari kami menunggu, tapi tidak ada satu pun langkah nyata dari Kejari. Ini menunjukkan lemahnya komitmen dalam menegakkan hukum. Jangan-jangan Kejari Sungai Penuh justru melindungi Kades Pelayang Raya, Supriadi,” ujar Indra. Indra juga menyoroti kinerja Kejaksaan yang dianggap gagal menuntaskan berbagai kasus hukum di wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. “Banyak kasus korupsi dan pelanggaran hukum yang terjadi di wilayah ini, tapi belum satu pun yang berhasil dituntaskan Kejari Sungai Penuh. Jika tidak mampu menegakkan keadilan, lebih baik mundur secara terhormat dan angkat kaki dari Bumi Sakti Alam Kerinci,” tegas Aktivis ini. Aksi massa sempat diwarnai kericuhan antara demonstran dan Kejaksaan Negeri Sungai Penuh yang diduga berasal dari internal Kejaksaan. Hingga berita ini diterbitkan, pihak Kejaksaan Negeri Sungai Penuh belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penanganan laporan dugaan korupsi oleh Kades Pelayang Raya Supriadi. Informasi yang beredar di lapangan menyebutkan bahwa para aktivis akan menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar jika tuntutan mereka tidak segera direspons oleh pihak Kejaksaan. Penulis Tim

Read More

Ricuh! Aroma Busuk Di Kejari Sungai Penuh? AWaSI Jambi Soroti Kinerja Kajari Yang Takut Jumpai Wartawan

Tajam24Jam.Com Sungai Penuh, Jambi, Selasa 17/6/2025 — Aksi unjuk rasa yang digelar oleh Aliansi Wartawan Siber Indonesia (AWaSI) Provinsi Jambi di halaman Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Sungai Penuh berujung ketegangan. Insiden terjadi ketika massa AWaSI yang hendak menyampaikan aspirasi dan tuntutan mereka dihadang oleh Kasi Intel Kejari beserta sejumlah petugas keamanan internal di pintu masuk kantor kejaksaan. Aksi yang awalnya berlangsung damai berubah memanas ketika perwakilan massa meminta untuk bertemu langsung dengan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sungai Penuh. Namun, Kajari enggan menemui massa, sehingga menimbulkan kekecewaan dan protes keras dari pengunjuk rasa. Sebagai diketahui bahwa Kejari Sungai Penuh menangi sejumlah kasus korupsi di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh yang menjadi wilayah hukumnya. Banyaknya kasus korupsi yang tidak jelas dalam penanganannya membuat rombongan AWaSI Jambi menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kejari Sungai penuh. “Kami datang dengan niat baik, menyampaikan tuntutan masyarakat terkait keterbukaan informasi dan penanganan kasus korupsi. Tapi justru dihadang dan ditolak masuk. Ini mencederai semangat demokrasi dan transparansi,, jumpai kami jangan sembunyi dibalik pintu” ujar Erfan Indriyawan, SP, Ketua Umum AWaSI Provinsi Jambi, di tengah kericuhan pada Selasa (17/06/2025). Kasi Intel Kejari Sungai Penuh yang berada di lokasi terlihat adu argumen dengan massa. Situasi semakin memanas saat beberapa petugas keamanan mencoba membatasi akses massa ke dalam halaman kantor. Sejumlah peserta aksi terdorong saat berusaha mendekati gerbang, namun situasi berhasil diredam sebelum terjadi bentrokan fisik. AWaSI dalam aksinya membawa sejumlah tuntutan, di antaranya mendesak transparansi informasi publik oleh institusi pemerintah, termasuk Kejari Sungai Penuh. Mereka juga menyoroti penanganan perkara korupsi yang dinilai lamban dan tidak terbuka kepada publik. “Kajari seharusnya hadir dan mendengar langsung suara rakyat. Ini bukan persoalan pribadi, ini tentang hak masyarakat untuk mendapatkan keadilan dan informasi yang jujur atau Kajari takut berhadapan dengan wartawan?” tambah Erfan. Meski terjadi ketegangan, aksi berakhir tanpa insiden kekerasan serius. Namun, pihak AWaSI menyatakan kekecewaannya terhadap sikap Kejari Sungai Penuh yang dinilai menutup diri terhadap kritik publik. Mereka berencana untuk melaporkan kejadian ini ke pihak berwenang dan akan terus mengawal tuntutan masyarakat hingga ada respons yang konkret. “Kami akan melakukan aksi lanjut dan mengajak sejumlah ormas yang ada di Kabupaten Kerinci dan kota Sungai Penuh untuk senantiasa mengadakan aksi unjuk rasa di depan kantor Kejari Sungai penuh tanpa henti hingga Kepala kejaksaan negeri Sungai penuh mau bertemu dengan pengunjuk rasa atau di ganti dengan Kajari yang baru” pungkasnya geram atas sikap angkur Kajari Sungai Penuh. Penulis Tim

Read More