Kurangi Ketergantungan pada Pupuk Kimia, Tim Ekspedisi Patriot IPB University Dorong Petani Kawasan Batu Betumpang Kembangkan Pupuk Organik

Tajam24Jam.Com Bangka Selatan, 19 September 2026 — Di tengah meningkatnya harga pupuk kimia dan tantangan ketersediaan input pertanian, petani di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang mulai didorong memanfaatkan sumber daya lokal sebagai bagian dari transisi menuju pertanian yang lebih berkelanjutan. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan dan pengaplikasian Pupuk Organik Cair (POC) yang diselenggarakan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University pada Sabtu (19/9). Kegiatan tersebut diikuti oleh 18 petani penggerak dan turut dihadiri Kepala Desa Panca Tunggal, Nurdin, serta Kepala Desa Sumber Jaya Permai, Thoha Maksum. Pelatihan menjadi bagian dari rangkaian Farmer Field and Business School (FFBS) yang dikembangkan TEP IPB University di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang. Melalui pelatihan tersebut, petani mempraktikkan pembuatan POC dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Pendekatan ini diharapkan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kemampuan petani menyediakan input secara mandiri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap input kimia secara bertahap. Kepala Desa Panca Tunggal, Nurdin, menilai kenaikan harga pupuk kimia menjadi salah satu alasan penting bagi petani untuk mulai mencari alternatif. “Pupuk kimia mulai mahal, sehingga memang petani harus memanfaatkan bahan yang ada dengan membuat pupuk organik. Diharapkan petani yang hadir di FFBS ini dapat menerapkan praktik yang dilaksanakan pada FFBS,” ujar Nurdin. Narasumber pelatihan, Suhudi, menekankan bahwa pengembangan pertanian organik tidak harus dimulai dengan teknologi yang rumit atau bahan yang sulit diperoleh. “Organik itu mencari yang mudah, bukan yang sulit,” ungkap Suhudi. Menurutnya, pendekatan tersebut relevan dengan kondisi pertanian setempat yang menghadapi sejumlah tantangan, termasuk keterbatasan air pada lokasi tertentu dan kondisi tanah yang relatif masam. Namun, perubahan menuju praktik yang lebih organik membutuhkan proses karena petani telah lama menggunakan input kimia dalam kegiatan budidaya. Karena itu, TEP IPB University mendorong proses transisi secara bertahap. Petani tidak hanya diperkenalkan pada alternatif input, tetapi juga didorong untuk mencoba, mengevaluasi, dan menyesuaikan praktik tersebut dengan kondisi lahan dan usaha tani masing-masing. Kepala Desa Sumber Jaya Permai, Thoha Maksum, berharap kegiatan Ekspedisi Patriot dapat menjadi awal munculnya praktik baru yang dapat terus dikembangkan oleh petani. “Diharapkan ada gebrakan baru untuk menuju pertanian organik. Program TEP dari IPB saat ini juga sudah mulai menuju ke organik. Harapannya setelah program ini selesai, petani dapat meneruskan penggunaan organik,” ujarnya. Antusiasme serupa disampaikan salah satu peserta FFBS, Ayik Sofyan. Menurutnya, pelatihan tersebut relevan di tengah meningkatnya harga dan kendala ketersediaan pupuk. “Sangat mendukung para petani yang saat ini harga pupuk mahal dan sulit didapatkan. Dengan adanya kegiatan kita meracik pupuk organik, mudah-mudahan petani tertarik dan memakai pupuk organik,” ujar Ayik. Pelatihan POC bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Melalui FFBS, TEP IPB University mendorong petani belajar melalui praktik langsung sekaligus membangun 18 petani penggerak yang diharapkan dapat meneruskan pengetahuan dan pengalaman kepada petani lainnya. Upaya tersebut menjadi bagian dari proses membangun pertanian yang lebih berkelanjutan di Batu Betumpang. Perubahan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi lahan, kemampuan petani, kelayakan ekonomi, dan akses pasar. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada kemampuan membuat pupuk organik. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kapasitas petani untuk memanfaatkan sumber daya lokal, mengurangi ketergantungan terhadap input kimia, dan melanjutkan proses pembelajaran setelah program Ekspedisi Patriot berakhir. (Tiem Jamal) Penulis Tim

Read More